BERIKUT 10
TEKNIK MENGELOLA KELAS MENURUT CAROLINE LINSE, SILAKAN DICOBA
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh
Selamat pagi dan salam Pendidikan
Pada kesempatan kali ini kami akan menyapa
rekan-rekan pengunjung denga melalui postingan yang berisi tentang teknik dan
cara mengelol kelas dengan baik, semoga bermanfaat bagi bapak ibu guru
sekalian.
Technique for clasroom control by Caroline Linse.
Saat menghadapi murid yang usianya masih kecil
(misal, SD) pasti kita banyak menghadapi kendala. Mulai dari siswa yang ribut,
susah diatur, suka lari-lari di kelas, dan lain-lain. Hal ini berbeda sekali
dengan menghadapi siswa di SMP atau SMA. Mereka biasanya sudah mengerti untuk
tetap tertib dan memperhatikan guru.
BACA JUGA :
WASPADALAH,,,,,TUNJANGANPROFESI GURU BISA DICORET, KENAPA...?
EMPAT TIPS SUKSESUNTUK GURU AGAR SISWA PATUHI ATURAN BELAJAR DIKELAS
Ancaman Serius dari Game Pokemon GO
Young learner (kelas rendah) biasanya masih mempunyai fokus
perhatian yang cenderung rendah. Mereka tidak bisa lama-lama fokus terhadap
suatu hal, karena perhatiannya akan mudah “buyar”. Maka sebagai guru sebaiknya
kita mempunyai teknik tersendiri untuk mengontrol kelas. Caroline Linse
mengemukakan ada 10 teknik yang bisa kita jadikan referensi.
1. Have a range of activities
up your sleve
Maksudnya, sebagai guru kita harus bisa menyiapkan rencana
cadangan. Misalnya aktivitas A yang sudah direncanakan ternyata tidak
memungkinkanuntuk dijalankan, nah kita harus punya plan B atau plan C. Sehingga
kita tetap dapat mengontrol kelas dengan baik.
2. Catch children being good
Guru terlalu sering fokus dengan perilaku buruk buruk dari
muridnya, misal saat anak berbuat nakal, pasti guru akan cenderung
menyalahkannya. Kadang, guru juga harus bisa memberikan pujian pada anak yang
melakukan hal positif. Misalnya, kalau anak berbuat baik, sebaiknya kita
memujinya. Terutama saat anak-anak trouble maker dapat berperilaku baik, kita
harus langsung memujinya agar perilakunya tetap menjadi baik. Ingat loh, anak
suka kalau dipuji! Tapi yang harus diperhatikan juga jangan terlalu sering
memuji, apalagi memuji pada satu orang anak saja. Hal ini akan memberikan cap
“anak emas” dan kita pasti dinilai pilih kasih.
3. Use affirmative commands
Sering denger kan teori jangan bilang jangan pada anak? Nah ini
sama aja kayak gitu. Pemakaian kata positif pada anak memang lebih efektif daripada
kata negatif. Misal, guru yang berkata “don’t talk so loudly!”, pasti anak-anak
hanya mematuhi untuk beberapa menit. Lain halnya jika guru berkata “please use
indoor voice”.konotasi positif akan cenderng dipatuhi oleh anak dibanding
konotasi negatif yang justru membuat mereka merasa kurang nyaman.
4. Break down instructions into
steps
Dalam memberikan intruksi pada anak,
sebaiknya harus jelas dan tidak berbelat-belit. Sebagai guru kita bisa membuat
beberapa langakah singkat yang bisa dimengerti anak. Instruksi yang panjang
akan membuat mereka kebingungan. Sebaikanya beri instruksi langkah demi langkah
dengan kalimat yang to the point. Misalnya sesudah memberik langkah pertama,
kita bisa menunggu terlebih dahulu mereka mengerjakannya, jika semua sudah
selesai maka dilanjutkan ke langkah berikutnya. Hal ini akan membuat mereka
mengerti apa yang harus mereka lakukan dan mengerjakannya dengan baik.
5. Determine clasroom rules with students
Dalam suatu kelas sebaiknya terdapat peraturan yang jelas. Ini
juga dapat membantu guru untuk mengontrol kelas karena sudah terpasang
peraturan yang sebelumnya sudah disetuji oleh semua siswa. Misalnya peraturan
bagi yang ribut atau gaduh akan diberi tanda L . Peraturan yang ada bisa
ditempel di dinding kelas agar anak tetap ingat. Selain itu, peraturan yang
dibuat juga sebaiknya dalam kalimat positif, misalnya “tertib saat pelajaran”
atau “be kind to others”, dll.
6. Take the class temperature often
Sebagai seorang guru kita harus bisa membaca situasi siswa.
Sebisa mungkin kita harus bisa “mengukur” keadaan kelas. Jika dilihat anak-anak
sudah bosan pada suatu kegiatan, kita bisa memberikan kegiatan yang lain. Hal
ini berkaitan dengan poin no.1.
7. Speak in a soft voice
Ketika suasa kelas mulai ramai, sebaiknya kita tidak berteriak
agar mereka diam. Hal ini hanya akan membuat mereka diam beberapa saat lalu
kembali ribut. Mereka pun akan berpikir, “kalau bu guru berteriak, berarti saya
juga boleh berteriak”. Berbicara dengan volume suara yang sedang atau cenderung
rendah akan membuat mereka diam dan penasaran dengan apa yang sedang kita
bicarakan, sehingga mereka akan mencoba mendengarkan kita dan berhenti ribut.
8. Develop signals to quiet the class
Terkadang kita perlu menggunakan alat bantu untuk mengambil
perhatian mereka. Misalnya, lihat di TK, para guru disana sering menggunakan
tamborin agar murid mereka fokus. Kita juga bisa menggunakan alat lain yang
mengeluarkan bunyi sebagai sinyal untuk mereka fokus. Jika kelas sudah mulai
ramai dan ribut, kita bisa mengetuk-ngetuk papan tulis untuk mendapatkan
perhatian mereka lagi. Pada anak ABK tunarungu, bisa digunakan isyarat lampu
untuk memfokuskan perhatian. Hal ini dilakukan dengan cara menyala-matikan
lampu kelas sehingga mereka terfokus pada gurunya.
9. On occasion, be a social engineer
Poin ini adalah salah satu poin yang menarik. Terkadang sebagai
seorang guru kita harus bisa menjadi insinyur sosial. Kadang ada anak pendiam
dan introvert yang jika berkelompok, tidak ada yang mau sekelompok dengan dia.
Sebagai guru, kita harus bisa membuat dia diterima di kelompok. Caranya dengan
mempromosikan kelebihannya. Misalnya, “ibu ingin kalian berkelompok dengan Mira
karena dia tahu banyak cerita tentang si kancil”. Kalimat promosi tersebut bisa
membuat anak lain menjadi membuka pemikirannya dan mulai tertarik untuk
berkelompok dengan Mira.
10. Make sure that the punishment fits the crime
Pasti ada saatnya ketika peraturan yang dibuat akan dilanggar
oleh siswa. Boleh saja kita menghukum mereka, tetapi dengan hukuman yang cocok
dan sesuai dengan kesalahan yang mereka buat. Misalnya saat ada dua orang anak
yang berkelahi, hukuman yang bisa kita berikan yaitu dengan memanggil keduanya,
lalu menyuruh mereka menuliskan 5 hal baik tentang temannya. Si A harus menulis
5 hal baik tentang si B, dan begitu juga sebaliknya. Hukuman ini akan membuat
anak (walaupun dalam keadaan yang saling membenci) berpikir tentang kebaikan
yang pernah temannya lakukan.
(Sumber : http://ayundhanabilah.blogspot.co.id)
Demikian yang dapat kami bagikan,
semoga bermanfaat bagi kita semua terutama reka-rekan guru.
BACA JUGA :
BACA JUGA :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar